More About Me...

Lorem ipsum dolor sit amet, nisl elit viverra sollicitudin phasellus eros, vitae a mollis. Congue sociis amet, fermentum lacinia sed, orci auctor in vitae amet enim. Ridiculus nullam proin vehicula nulla euismod id. Ac est facilisis eget, ligula lacinia, vitae sed lorem nunc. Orci at nulla risus ullamcorper arcu. Nunc integer ornare massa diam sollicitudin.

Another Tit-Bit...

Lorem ipsum dolor sit amet, nisl elit viverra sollicitudin phasellus eros, vitae a mollis. Congue sociis amet, fermentum lacinia sed, orci auctor in vitae amet enim. Ridiculus nullam proin vehicula nulla euismod id. Ac est facilisis eget, ligula lacinia, vitae sed lorem nunc.

Menyimak bahasa bugis makassar toraja


1.      Suasana defensif
Suasana defensif adalah situasi bertahan yang diterapkan dalam perjalanan hidup manusia apabila tidak ingin menemui jalan yang gagal, kekalahan, atau kehancuran sekali pun.
Adapun pesan-pesan yang tersirat dalam suasana defesif adalah;
Ø  Evaluatif : Hal ini biasanya terjadi pada penyimak seksama yang secara sadar atau tidak sadar memancing penilaian dari sang penyimak.
Contoh : Kami akan menunjukkan kepada anda, apakah anda orang saleh atau tidak.
Ø  Mengawasi : Pesan-pesan yang disampaikan oleh sang pembicara adakalanya membuat para penyimak bersiap-siap untuk mengontrol benar-tidaknya, tepat-melesetnya, jujur-tidaknya, objektif-objektifnya ujaran itu.
Contoh : Saudara-saudara, dengan tegas saya katakan bahwa saya adalah orang yang saleh dan baik hati serta tidak pernah mementingkan diri sendiri. Nah sudah sepantasnya saya dipilih dan saya akan memajukan desa ini sekuat tenaga saya.
Ø  Strategis : Adakalanya pesan-pesan yang disampaikan oleh seseorang dalam ujaran atau pidatonya , secara sadar atau tidak sadar, membuat para penyimak siap untuk memasang kuda-kuda siasat atau pertahan yang bersifat strategis.
Contoh : Bapak-bapak, saudara-saudara, dan ibu-ibu. Turutilah cara saya dan kalian akan mendapatkan hasil yang baik, sebab saya telah merancang rencana itu sekian lama dan sangat diyakinkan akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Ø  Netral : Tidak jaran pesan-pesan yang disampaikan atau dikemukakan oleh pembicara merangsang para penyimak untuk bertindak atau berpikir secara netral, tidak memihak pada orang atau golongan tertentu.
Contoh : Saudara-saudara harus tahu, saya tidak mau tahu dengan masalah orang itu apa gunanya saya melibatkan diri ke dalam persoalan yang ujung pangkalnya saya tidak tahu, urus diri sendiri saja saya masih banyak masalah.
Ø  Superior : Orang yang menganggap bahwa dirinya unggul dari segala hal daripada orang lain.
Contoh : Kamu harus tahu dan harus sadar bahwa saya itu jauh lebih baik daripada kalian. Ya atau tidak! Cobalah kalian pikirkan, saya adalah orang kota sedangkan kalian hanyalah orang kampung., semua anak saya sudah sarjana sedangkan anak kalian pengangguran. Jadi jangan bermimpi untuk bisa menyaingi saya.
Ø  Pasti dan tentu : Sang pembica mengemukakan sesuatu yang pasti, yang sudah tertentu, memancing dan merangsang para penyimak untuk bersifat bertahan atau defensif.
Contoh : Engkau boleh pilih: mengaku atau saya pancung kepalamu! Saya hanya bisa memberi pilihan tidak ada cara lain, hanya itu! Bagaimana, beri jawaban yang tegas.


2.      Suasana suportif adalah suasana komunikasi yang bersifat mendukung atau yang menunjang yang timbul dari pesan-pesan yakni;
Ø  Deskripsi : Suasana menyimak yang dapat berupa komunikasi suportif apabila sang pembicara dalam ujarannya yang mengimplikasikan pemberian atau deskripsi yang lebih banyak.
Contoh : Saudara-saudara yang saya hormati, tadi saya telah memaparkan secara sepintas kehidupan desa ini, tapi saya rasa apa yang tadi saya ungkapkan masih jauh dari apa yang kita sebut memuaskan. Oleh sebab itu saya rasa saudara dapat membantu saya karena saudara mungkin banyak lebih tahu dibanding daripada saya sebab saudara sendiri yang tinggal di kampung ini. Jadi berikanlah saya lebih banyak data dan penjelasan tentang kampung ini dilihat dari faktor pendidikan, kesehatan, kebersihan, dan lain-lainnya.
Ø  Orientasi permasalahan : Ujaran atau pembicaran yang berorientasi pada berbagai permasalahan pun dapat menjelma menjadi suasana menyimak yang suportif pada pihak penyimak.
Contoh : Tadi telah saya kemukakan berbagai kemajuan yang telah dicapai pada desa kita ini. Sekarang, setelah anda mendengar uraian singkat tadi mungkin timbul berbagai persoalan atau problem, tolong kemukakan kepada saya problem apa apa itu agar kita masing-masing mendapatkan solusinya.
Ø  Spontanitas : Sang pembicara yang dapat memanfaatkan unsur spontanitas dalam ucapannya jelas akan membuat para penyimak lebih mudah mencerna dan menangkap isi pesan-pesan yang disampaikannya.
Contoh : Saudara-saudara para karyawan yang saya cintai, apa yang dapat kita lakukan sekarang mengenai kesejahteraan karyawan, masalah pemutusan hubungan kerja? Mari kita pikirkan bersama-sama hal ini. Tanpa karyawan yang sejahtera, mustahil perusahaan ini akan sukses tanpa kemajuan perusahaan, mustahil karyawan bisa jadi sejahtera lahir batin.
Ø  Empati : Bagaimana seorang pembicara diupayakan agar pada saat penyampaian pesan-pesannya diharapkan tegas, karena hal itu dapat meimbulkan dampak yang sangat baik bagi para penyimak dalam menangkap apa-apa saja yang kita paparkan kepada mereka.
Contoh : Kita tidak ingin dicaci atau difitnah tanpa alasan yang dapat diterima oleh akal sehat. Kita pasti akan memberontak karena kita betul-betul dihina. Padahal kita ini adalah insan Tuhan yang mempunyai budi dan kepribadian.
Ø  Ekualitas : Unsur ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh sang pembicara untuk menarik minat para penyimak terhadap pesan-pesan yang akan disampaikan.
Contoh : Saudara-saudara, memang dua atau lebih ide jauh lebih baik dari satu saja. Namun yang jadi masalah sekarang apa yang seharusnya kita lakukan bersama demi kemakmuran daerah ini. Apa yang dapat kita lakukan untuk memerangi kemiskinan dan penderitaan di daerah kita ini? Mari saudara-saudara kita bergotong royong dan bekrja sama demi masa depan putra-putri kita kelak.

Ø  Provisionalisme : Unsur ini dapat dimanfaatkan oleh pembicara untuk menarik minat pendengar atau penyimak dengan cara ketepatan dan ketentuan pada saat berpidato atau berbicara walaupun sifatnya hanya sementara.
Contoh : Melihat penyakitmu yang menahun, maka cara yang terbaik adalah berobat ke dokter spesialis dokter ahli, masalah uang pengobatan jangan kuatir, saya akan menolongmu. Besok pagi kita sama-sama pergi ke dokter di kota. Dan semoga penyakitm ini bisa cepat sembuh dan kembali bekerja seperti biasa.
3.      Saran praktis meningkatkan keterampilan menyimak
Penyimak yang baik adalah ketika si penyimak dapat memposisikan dirinya sebagai pembicara tersebut dan dapat memahami apa yang diakatakannya serta dapat menginterpretaikannya.
Berbagai saran untuk meningkatkan keterampilan menyimak yakni;
Ø  Bersikaplah secara positif
Kita harus beranggapan bahwa sang pembicara adalah orang penting dan menarik, orang yang banyak pengetahuan dan akan menyajikan bahan-bahan dan gagasan yang berguna dan menyenangkan bagi kita.
Ø  Bertindaklah responsif
Kita harus bersungguh-sungguh memperhatikan sang pembicara menuturkan isi pembicaraannya dengan gerak-gerik yang waspada agar si pembicara merasa diperhatikan, dan seterusnya pastilah terjadi saling pengertian antara si pembaca dan si penyimak.
Ø  Cegahlah gangguan gangguan
Agar dapat menjadi penyimak yang baik kita dituntut harus mampu menghindari segala gangguan-gangguan yang menimpa kita agar si pembicara merasa tidak tak dihargai pada saat berbicara.
Ø  Simak dan tangkaplah maksud pembicara
Kita harus mampu memahami apa isi atau maksud yang hendak pembaca paparkan kepada kita.
Ø  Carilah tanda-tanda apa yang akan datang
Carilah tanda-tanda apa yang akan kemudian dipaparkan oleh sipembaca agar kita bisa langsung masuk ke sub inti maksud isi cerita si pembaca.
Ø  Carilah rangkuman pembicaraan terlebih dahulu
Kita dituntut untuk mengetahui point-point penting apa-apa saja yang telah disampaikan oleh si pembicara atau si pembaca agar kita dapat mengetahui keseluruhan isi dari pesan-pesan tersebut.
Ø  Nilailah bahan-bahan penunjang
Dalam hal ini si ppenyimak dituntut agar menilai hal penting yang disampaikan oleh ipembaca agar nantinya bisa mempertanyakan hal-hal yang kurang jelas, hingga si pembicara akan merasa bahwa bahan yang disampaikannya ternyata anda berminat untuk mengetahuinya lebih mendalam lagi.

Ø  Carilah petunjuk-petunjuk nonverbal
Gaya, mimik, gerak-gerik dan gerakan si pembicara merupakan bagian vital dari  pesannya. Bersiap-siap terhadap tanda-tanda yang nonverbal ini akan membantu anda untuk memahami bagaimana gagasan itu terasa bagi sang pembicara.
4.      Upaya menyimak tepat guna
Ø  Kembangkanlah suatu kemauan atau kesudian menyimak
Ø  Menyimaklah lebih lama
Ø  Menyimaklah lebih sering
Ø  Menyimaklah dengan penuh respek
Ø  Menyimaklah dengan umpan umpan balik
Ø  Menyimaklah tanpa penilaian atau keputusan yang prematur
Ø  Menyimaklah dengan tenang hati dan tenggang hati
Ø  Menyimaklah secara analisis
Ø  Menyimaklah tanpa keadaan membela diri
Ø  Menyimaklah dengan prasangka dan streotip yang minim
Ø  Simaklah tanda-tanda nonverbal dan carilah hal-hal yang tidak konsekuen
5.      Aneka kendala menyimak efktif
Ø  Keegosentrisan : Adalah sifat yang mementingkan diri sendiri, sifat ego yang selalu memusatkan diri sendiri, mungkin saja cara hidup bagi sementara orang dalam kondisi temporer saja.
Ø  Keengganan ikut terlibat : Keengganan menanggung resiko akan menghalangi kegiatan menyimak, keterlibatan diri sendiri adalah salah satu diantaranya. Keengganan ikut terlibat dengan orang lain memang merupakan suatu kendala atau penghalang kegiatan menyimak yang efektif .
Ø  Ketakutan akan perubahan : Segala berubah tidak ada yang tetap, jadi hal-hal yang tidak kita tahu menjadi tahu karena di dalamnya kita juga sudah menjalankan yang namanya belajar, namun ada sebagian orang yang tak ingin berubah, sebab dia merasa pikirannya siracuni dengan doktrin-doktrin  yang salah misalnya.
Ø  Keinginan menghindari pertanyaan : Biasanya ada orang yang ketika si pembaca atau si pembicara telah selesai memapaparkan isi pesannya, biasanya para penyimak akan dimintai pertanyaan seputar dari pembahasan tadi dan dai tidak siap untuk itu makanya dia menghindari pertanyaan tersebut.
Ø  Puas terhadap penampilan eksternal : Ketika para penyimak lain menganggukkan kepala kita juga ikut menganggukkan kepala karena kita pikir apa yang dia paparkan memang benar adanya, padahal bisa saja apa yang dia sampaikan itu keliru atau tidak sesuai dengan pemikiran kita, namun kita hanya ikut-ikutan dengan yang lain atau kita segitu mudahnya dengan kepuasaan.
6.      Perilaku menyimak
a.       Menyimak faktual
Penguasaan yang mantap terhadap teknik-teknik menyikmak faktual ini justru memudahkan sang penyimak untuk menangkap serta memahami fakta-fakta, konsep-konsep, serta informasi yang disampaikan oleh si pembicara.
Perlu kita ketahui benar-benar bahwa menyimk faktual menuntut empat keterampilan yaitu;
Ø  Kita harus melibatkan diri secara total pada situasi komunikasi.
Ø  Kita harus menguasai seni atau kiat pembuatan catatan yang tepat guna.
Ø  Kita harus mencari serta menganalisis sarana-sarana penunjang yang diutarakan oleh si pembicara.
Ø  Kita harus mencari pola organisasi dan struktur keseluruhan sang pembicara.
b.      Menyimak empatik
Menyimak empatik adalah cara untuk memahami sikap psikologis dan emosional sang pebicara dan bagaimana sikap tersebut mempengaruhi ujaran si pembicara. Menyimak empatik ini juga biasa disebut dengan menyimak aktif atau menyimak pemahaman.
Ada beberapa perilaku yang dituntuk dalam kegiatan menyimak empatik ini yakni;
Ø  Memperhatikan isyarat-isyarat nonverbal
Ø  Menempatkan diri pada posisi orang lain
Ø  Memusatkan perhatian pada pesan, bukan pada penampilan
7.      Meningkatkan perilaku menyimak
Setiap orang yang menjadi penyimak yang unggul haruslah meningkatkan perilaku menyimak dalam dirinya. Memang banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai maksud baik itu. Di bawah ini kita kemukakan beberapa langkah khusus untuk meningkatkan keterampilan menyimak yakni;
Ø  Menerima keanehan sang pembicara
Ø  Memperbaiki sikap
Ø  Memperbaiki lingkungan
Ø  Jangan dulu memberikan pertimbangan
Ø  Meningkatkan pembuatan catatan
Ø  Menyaring tujuan-tujuan menyimak yang spesifik
Ø  Memanfaatkan waktu secara bijaksana
Ø  Menyimak secara rasional
Ø  Berlatih menyimak bahan-bahan yang sulit
Agar tujuan dapat tercapai maka siasat-siasat menyimak berikut dapat digunakan;
a.       Buanglah prasangka yang ada
b.      Manfaatkanlah umpan balik yang nonverbal
c.        Gunakanlah umpan balik verbal
d.      Kemukakanlah pertanyaan-pertanyaan yang jitu dan tepat guna
e.       Praktekkanlah aneka tipe menyimak yang berbeda-beda, sesuai dengan situasi dan tujuan.

0 komentar:

Poskan Komentar



 

musik